Jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Rupanya otak dan badan ini sudah minta untuk diistirahatkan, matapun tinggal 5 watt. Akhirnya aku putuskan untuk menyudahi menonton ‘kick andy’ di metro tv. Aku suka ‘kick andy’, bukan semata karena acaranya penuh dengan motivasi, tetapi karena nama acaranya sama dengan namaku. Terus terang aja, aku sedikit lebih ganteng dibanding Andy.F.Noya, host acara tersebut (sekedar menghibur diri, boleh dong).
Sebelum masuk ke peraduan, terlebih dahulu aku gosok gigi dan wudhu, sesuai sunnah Nabi. Kami berusaha menanamkan ritual ini kepada anak – anak kami. Mereka pun sangat senang diwajibkan berwudhu bila akan tidur. Saking senangnya mereka akhirnya tidak berwudhu tetapi mandi besar. Mereka bila disuruh berwudhu sebelum tidur maka mereka akan bermain air dan akhirnya mereka mandi malam. Anda bisa membanyangkan bagaimana sang istri harus mengeringkan 2 anak kecil yang tak pernah mau diam, dimalam hari, disaat orang – orang bersiap untuk tidur. Sementara aku hanya tersenyum – senyum geli melihat mereka kena ‘omelan’ dimalam yang sepi.
Akupun tertidur pulas. Tidak mungkin aku menceritakan bagaimana aku tidur sebab aku telah tidur (ini apaan sih). Tiba – tiba aku terbangun oleh suara ribut diplafon rumahku, persis diatas kepalaku. Aku kaget dan spontan aku bertanya dengan suara setengah berteriak dan tolol (jangan disalahin namanya juga orang kaget) “maling ya !!!”.
Tiba – tiba suara berisik itu terhenti. Dengan posisi masih ditempat tidur aku pun bertanya lagi masih dengan tolol “maling bukan sih, jawab dong!!”. Tiba – tiba mahluk yang berada persis diatas kepala saya dibalik plafon itu menjawab “mmmeeeooonngggg”.
Mendapati jawaban seperti itu, akupun terloncat dari tempat tidur, panic tidak karuan dan tak tahu harus berbuat apa. Hanya memandang keatas plafon, hilir mudik sambil berkacak pinggang. Ini pelecehan yang teramat sangat, sudah sangat kurang ajar. Dengan emosi yang meluap – luap aku mencari alat yang bisa dipakai untuk melawan pelecehan tersebut. Aku melirik bantal dan guling. Tidak mungkin mempergunakan benda ini untuk melempar kucing yang berada dibalik plafon.
Akhirnya aku keluar kamar dan mendapati anak yang paling besar sedang tertidur didepan tv. Pasti anak ini habis nonton bola. Aku membangunkannya. “mas, bangun !!” sambil mengoyangkan badannya. Diapun terbangun dengan kaget “ada apa yah ??” kata dia sambil duduk. “ada kucing diatas plafon” jawabku dengan penuh emosi. “ahhh..si ayah nih, ribut aja, orang kucing aja lho…biarin aja” sambil melanjutkan tidurnya. “ayo dong bantuin ayah ngusir kucingnya” “ahhh gak ah” jawab mas Ikho. Tak lama kemudian suara dengkurnya mengalun dengan merdu. Yang pasti mas Ikho tidak bisa diharapkan bantuannya.
Akhirnya masih dengan emosi yang meledak – ledak, aku kembali mencari alat atau senjata untuk mengusir kucing tersebut. Akupun mulai mengutuk tukang yang pernah kuberikan pekerjaan untuk menutup semua lubang yang di curigai bisa menjadi jalan kucing masuk plafon. Pada hal aku sudah mengancam tukang itu, kalau sampai ada kucing yang naik ke plafon maka tukang itu akan kusuruh Push Up. Si tukang hanya tertawa sambil berkata “mudah – mudahan bukan kucing yang masuk plafon tapi singa, abdi mah pasti dipanggil lagi buat betulin lobang singa…heheh”. “sekalian sampean tak jadiin triplek buat nutup lobang singa” jawabku sebel.
Aku masih kebingungan mencari alat buat mengusir kucing tersebut. Aku kembali ke kamar. Terdengar suara gedubrak..bruk…brak dari atas plafon. Semakin jengkel rasanya. Akupun membangunkan sang istri. “Ma..bangun, ada kucing diplafon, tar lagi jatuh kena muka mama”. Aku memang sengaja memakai kata – kata seperti itu, biar sang istri juga panic. Tujuannya agar ada yang membantu mengusir kucing tersebut. Namun dengan santai sang istri bangun sambil berkata “ayah…kucing itu sepertinya mau melahirkan”. Kemudian dengan santai melanjutkan dengkurannya.
Mendapati jawaban sang istri seperti itu, aku pun semakin panic. Kalau kucing itu mau melahirkan berarti nambah lagi mahluk kucing, berarti ‘pup’ kucing akan bertambah, berati ‘kap’ Jeepku akan semakin penuh noda goresan cakar kucing.
Tidak!!! kucing itu tidak boleh melahirkan di plafon. Tetapi aku tidak bisa berbuat apa – apa. tidak mungkin aku naik ke plafon rumah pada jam 2.30 dini hari. Akhirnya aku pasrah se pasrah – pasrahnya. Kembali aku tidur dengan posisi telentang, penuh kewaspadaan. Waspada karena aku takut plafonnya runtuh dan jatuh dimukaku berikut kucing – kucingnya.
Suara kucing berguling – guling semakin keras, ditambah dengan suara kucing yang sedang kontraksi (pernah tau suara kucing yang sedang kontraksi?), mungkin sudah ‘bukaan 9’, batinku. Tidak lama kemudian tercium bau anyir, pasti anak kucing sudah keluar. Dugaanku benar. Terdengar suara anak kucing ramai di plafon tepat diatas muka yang sedang dalam posisi terlentang menatap langit – langit.
Akupun kembali ber sungut – sungut mengutuk tukang yang tak bersalah itu. Gara - gara si akang yang orang sukabumi itu tidak bekerja dengan professional, akibatnya aku harus tersiksa menunggui kucing yang sedang melahirkan. Pada hal sangat jelas bahwa kehamilan kucing itu bukan tanggung jawabku. Entah kemana suami si kucing itu. Kok tega – teganya menyuruh istrinya melahirkan dirumahku. Akhirnya rumahku jadi Rumah Sakit Bersalin Kucing dan aku menjadi orang yang harus menunggui kelahirannya, sendirian tanpa ada yang menemani, semua penghuni rumah asyik dengan mimpi – mimpinya. Hanya aku yang berjuang sendiri.
Langit – langit kamarku semakin ramai dengan lahirnya anak kucing yang aku tak tahu jumlahnya. Aku sudah bertekad, setelah Sholat Subuh aku akan naik ke plafon menjenguk ibu kucing yang baru melahirkan itu, kemudian akan ku suruh pindah ke Rumah Sakit Bersalin (RSB) yang lebih baik lagi, rumah sakit Pondok Indah atau RS. Harapan Kita adalah rumah sakit yang sangat Refsentatif.
Setelah Sholat subuh, tak kuperdulikan lagi teriakan kawan – kawan yang memanggilku. Biasanya kami pulang ber sama – sama sambil ‘ngobrol’. Aku setengah berlari pulang dengan tujuan cuman satu. Sesegera mungkin menjenguk Ibu Kucing.
Sesampainya dirumah, kudapati tanda – tanda kehidupan sudah terlihat. Sang istri sudah mulai melakukan pekerjaannya. Sebelum membuka pintu pagar aku sempat memeriksa rerumputan tempat para kucing sering membuang hajat. Luar Biasa, hari ini tak ada satupun ‘pup’ kucing, sungguh suatu yang luar biasa.
Aku pun masuk kerumah, sang istri menyambut salamku dan kemudian langsung memberikan keterangan ‘pers’. “teman ayah sudah gak ada” kata sang istri. “hah siapa!!, siapa yang meninggal??” kataku dengan kaget. “heheh bukan, teman Ayah si kucing itu lho, udah gak ada, dah pergi” “dah pergi?? pergi kemana ma?? lewat mana?? anaknya di bawa gak?” aku bertanya dengan serius. “iya tadi aku liat anaknya dibawa…gak tau dibawa kemana, perginya juga gak tau” jawab sang istri lagi. “Syukurlah, berati aku gak jadi nengokin Ibu Kucing itu, tapi mama kok tau kalo ada kucing yang mo melahirkan?? mama udah jadi paranormal??” “paranormal apaan?? kemarin siang khan kucing itu udah muter - muter didepan rumah, sepertinya nyari tempat tuk melahirkan”. “oohhh gitu, kirain mama udah jadi paranormal, soalnya waktu ayah kasih tau kalo ada kucing di plafon, mama langsung tau kucing itu mo melahirkan” kataku sekenanya.
Setelah matahari bersinar dengan terang, aku menelephone si akang tukang itu. Dengan sedikit berteriak kuperintahkan dia ke rumah secepatnya. Selang beberapa menit si tukang pun sampai. Segera kuminta dia masuk ke plafon memeriksa setiap sudut. Dan sudah bisa dipastikan ada celah yang terbuka, segera si tukang menutupnya.
Si akang pun hanya tersenyum kecut melihat aku, mungkin takut disuruh push up. Kopi yang disediakan sang istri diseruput dengan cepat, kemudian pamit pulang. Duit yang aku berikan di tolak mentah – mentah. Tapi aku pun memaksanya, akhirnya dia mengalah. Sebelum pergi si akang sempat berkata “ mudah – mudahan besok ada kucing yang lahiran lagi, biar akang dapat duit lagi ya neng!!” kata si akang pada sang istri. “heheh jangan atuh kang, nanti si bapak uring – uringan lagi” jawab sang istri. Mendengar percakapan mereka aku pun berteriak dari dalam rumah “awas kalau plafon jebol lagi, akang tak suruh push up beneran lho!!”. Si akang bersama sang istri menahan tawa. Akhirnya si akang pun pamit pulang sambil memegang perutnya menahan tawa.
Kepada seluruh Ibu Kucing, di mohon supaya tidak melahirkan di rumahnya ‘Andi’, sebaiknya melahirkan di tempat yang telah ditentukan yaitu di ‘Rumah Sakit Bersalin’. Dan jangan lupa suaminya dibawa yaa…bu kucing???
BersambungLah…masa BersambungDong
 | wakakakakakakakkakaak.gubrakkkk |
 | ya ampun musuh banget sama kucing...katanya kalo kucing melahirkan dirumah itu berarti orang yang punya rumah bakalan dapet rejeki loh...:) |
 | hmmm...subhanallah ya...kucing berjuang sendiri dalam proses melahirkan...Maha Besar Allah !! ^_^ |
 | Mending liat kucing melahirkan, drpd liat kucing meregang nyawa dilindas sm mobil.. Hikhiks.. |
 | Hi........hi....lucu-lucu! Yang terbayang olehku adalah tuh plafond runtuh dan menutupi muka Andi berikut kucing dan anak-anaknya yang masih berlendir. Wakakakakakakk........................! |
 | kekeke jangan sampe d,bisa2 mukaku ada tato gambar anak kucing,trus kucingnya nunjukin jari simbol 'METAL!'..hehehe |
 | coba melahirkannya pake operasi, bisa runyam cari dokter "kucing"........Wkakakakkkkakakakkakk |
 | bener tuh klo lebih ganteng dr kick andy? .. bagus d tulisannya,.. berbakat jg ternyata,. tak kusangka..
|
| |